Langsung ke konten utama

Esok

Esok,
Engkaulah deras yang mengguyur setiap lini intiku...

Engkaulah bahasa yang mengajarkanku berkata-kata dalam kebisuan...

Engkaulah serat sutra yang kurajut dengan penuh kesakralan...

Engkaulah kesadaran yang kuminati ditiap putaran waktu...

Engkaulah kenangan yang ingin terus kuulangi berkali-kali dalam memori otakku...

Engkaulah sebuah kemakluman dalam tingkah dan lakuku..

Engkaulah getar dalam ketidakmengertian itu...

Dan...
Engkaulah itu denyut  dalam urat di nadiku...

Jakarta, 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membahasakan Bahasa

Berbahasalah wahai Ayah, Bunda.. Ajak anak-anakmu untuk berdialong dengan bahasa yang tak biasa, dengan bahasa yang diajarkan Rasulullah kepada Abdullah bin Abbas dalam mengenalkan tauhid pada Rabbnya. Abdullah bin Abbas adalah keponakan Rasulullah yang pada saat itu usianya baru berkisar 10th, tapi Rasulullah selalu mengajaknya berdialog dengan bahasa yang indah nun rupawan. Dengan bahasa yang tak biasa disampaikan pada anak seusianya. Tapi, Rasulullah membahasakan itu padanya. Suatu hari saat Rasulullah membonceng Abdullah bin Abbas di atas  unta untuk satu perjalanan. Kemudian Rasulullah berucap  "Jagalah Allah, Nak. Maka Allah akan menjagamu." Secara logika, anak kecil mana yang mampu mengerti bahasa seperti itu, tinggi dan membingungkan, tapi tidak dengan Abdullah bin Abbas kecil, seorang anak kecil yang cerdas, mampu mengerti perkataan Rasulullah. Bayangkan, bagaimana mungkin kita bisa menjaga Allah sedangkan Allah tidak terlihat. Tapi kecerdasan Abdullah bi...

Bersama

Lagi-lagi takdriNya itu teramat indah untukku syukuri Garis takdir yang membawaku ada di sini, tempat ini Siapa lagi yang mampu menggerakkan takdirku selain Ia pemilik alam semesta, yang jiwaku ada ditanganNya. Ah, Siapalah aku jika harus bersanding dengan mereka.  Mereka adalah orang-orang hebat, pemilik aksara. Menulis adalah hidup,jiwa, bahkan segenap hatinya  adalah untuk menulis. Sedang aku? Aku masih jauh dari kata pantas. Menulisku masih semauku, menulisku masih perihal apa yang aku senangi. Namun jika takdirNya menetapkan kita untuk ada dalam satu atap bersama. Siapa yang mampu menolak? Aku? bisa apa aku ini. Tak ada sedikitpun takdirNya yang dapat kukendalikan Tugasku hanya perlu taat  atas setiap skenario yang Ia buat. Aku, seringkali mengatakan "Aku tau." tapi hakikatnya akulah yang paling tidak mengetahui bahwa ada kekuatan yang bekerja diluar kendaliku, ada banyak hal-hal yang tidak mampu kutebak-tebak dengan ke sok tahuanku. Teruntuk kali...