Langsung ke konten utama

Negeri Berjuta Rasa

https://www.google.co.id/search

Kali ini saya akan  bicara tentang Indonesia. Sebelumnya, ijinkan saya bertanya terlebih dahulu pada kalian pembaca setia tulisan saya, apa yang kalian pikirkan jika mendengar kata Indonesia? hmm.. Kalau saya, akan  berpikir bahwa Indonesia adalah negeri berjuta rasa penuh warna-warni. hehehe
Eh serius loh.. di tuisan kali ini, saya akan menceritakan  sedikit tentang warna-warni di Indonesia.

Pernah gak sih berpikir atau mempertanyakan hal sederhana saat kita ada di dalam kelas. Ketika seorang guru meminta murid-muridnya untuk mengerjakan soal matematika, kebanyakan mereka akan mengarang bebas untuk mendapatkan jawabannya. Padahal untuk mendapatkan jawaban matematika, kita perlu berpikir untuk dapat jawaban yang tepat.

Nah, di lain kesempatan. Ketika seorang guru memintamu menjawab soal bahasia Indonesia dengan tema mengarang bebas. Kamu justru akan berpikir keras untuk mendapatkan jawabannya. Dan ini terbukti di Indonesia.

Selanjutnya. Pernahkan berpikir mengapa orang Indonesia itu takut untuk berbaur dengan hujan, hanya karena takut sakit. Ah, ini aneh menurutku. Di Jepang, orang-orang tidak mau bermain dengan hujan bukan karena mereka takut sakit. Tapi karena mereka takut pakaian mereka basah karena air hujan. Apa jadinya kalau orang Jepang tahu betapa lemahnya orang Indonesia yang menghindari hujan hanya karena takut sakit. Padahal tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa air hujan mampu membuatmu sakit.

Oke. Menurutku cukup sekian tulisanku kali ini, kalau ingin mendengar banyak penjelasan tentang warna warni di Indonesia, lebih baik kau ajak aku bertemu di sebuah kedai kopi, maka akan dengan senang hati kuceritakan semua rahasia tentang Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membahasakan Bahasa

Berbahasalah wahai Ayah, Bunda.. Ajak anak-anakmu untuk berdialong dengan bahasa yang tak biasa, dengan bahasa yang diajarkan Rasulullah kepada Abdullah bin Abbas dalam mengenalkan tauhid pada Rabbnya. Abdullah bin Abbas adalah keponakan Rasulullah yang pada saat itu usianya baru berkisar 10th, tapi Rasulullah selalu mengajaknya berdialog dengan bahasa yang indah nun rupawan. Dengan bahasa yang tak biasa disampaikan pada anak seusianya. Tapi, Rasulullah membahasakan itu padanya. Suatu hari saat Rasulullah membonceng Abdullah bin Abbas di atas  unta untuk satu perjalanan. Kemudian Rasulullah berucap  "Jagalah Allah, Nak. Maka Allah akan menjagamu." Secara logika, anak kecil mana yang mampu mengerti bahasa seperti itu, tinggi dan membingungkan, tapi tidak dengan Abdullah bin Abbas kecil, seorang anak kecil yang cerdas, mampu mengerti perkataan Rasulullah. Bayangkan, bagaimana mungkin kita bisa menjaga Allah sedangkan Allah tidak terlihat. Tapi kecerdasan Abdullah bi...

Bersama

Lagi-lagi takdriNya itu teramat indah untukku syukuri Garis takdir yang membawaku ada di sini, tempat ini Siapa lagi yang mampu menggerakkan takdirku selain Ia pemilik alam semesta, yang jiwaku ada ditanganNya. Ah, Siapalah aku jika harus bersanding dengan mereka.  Mereka adalah orang-orang hebat, pemilik aksara. Menulis adalah hidup,jiwa, bahkan segenap hatinya  adalah untuk menulis. Sedang aku? Aku masih jauh dari kata pantas. Menulisku masih semauku, menulisku masih perihal apa yang aku senangi. Namun jika takdirNya menetapkan kita untuk ada dalam satu atap bersama. Siapa yang mampu menolak? Aku? bisa apa aku ini. Tak ada sedikitpun takdirNya yang dapat kukendalikan Tugasku hanya perlu taat  atas setiap skenario yang Ia buat. Aku, seringkali mengatakan "Aku tau." tapi hakikatnya akulah yang paling tidak mengetahui bahwa ada kekuatan yang bekerja diluar kendaliku, ada banyak hal-hal yang tidak mampu kutebak-tebak dengan ke sok tahuanku. Teruntuk kali...

Esok

Esok, Engkaulah deras yang mengguyur setiap lini intiku... Engkaulah bahasa yang mengajarkanku berkata-kata dalam kebisuan... Engkaulah serat sutra yang kurajut dengan penuh kesakralan... Engkaulah kesadaran yang kuminati ditiap putaran waktu... Engkaulah kenangan yang ingin terus kuulangi berkali-kali dalam memori otakku... Engkaulah sebuah kemakluman dalam tingkah dan lakuku.. Engkaulah getar dalam ketidakmengertian itu... Dan... Engkaulah itu denyut  dalam urat di nadiku... Jakarta, 2017